Dinamika Pancasila

Masalah karakter bangsa atau identitas bangsa Indonesia akhir-akhir ini menjadi topik yang hangat dibicarakan dan diperdebatkan baik bagi para pemimpin-pemimpin bangsa, masyarakat umum bahkan para pelajar dan mahasiswa termasuk saya sendiri yang sering mendengar berita-berita yang tidak mengenakan untuk didengar, seperti halnya kasus Raffi Ahmad. Hal ini juga disebabkan karena masyarakat sudah mulai kehilangan karakter bangsa yang biasa disebut identitas bangsa sebagaimana yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa kita.

Bapak-bapak pendiri bangsa telah merumuskan Pancasila sebagai landasan yang kokoh bagi Indonesia yang meiliki bangsa yang multietnik, multiagama, majemuk, yang memiliki ribuan pulau, dan kaya sumber daya alam. Pancasila merupakan kesadaran dasar yang menjadi syarat utama terwujudnya bangsa yang berkarakter, berkeadilan, demokratis dan bermartabat.

Mereka memformulasikan pemikiran yang menjiwai pancasila dengan sangat cermat dan mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrim, negara sekuler dan negara agama. Mereka menyusunnya dengan rumusan kreatif yaitu berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa. Pancasila adalah milik bersama yang secara subtantif memberi ruang bagi tumbuhnya ajaran agama dan kepercayaan.

Namun, Pancasila juga dipersoalkan oleh sejumlah anak bangsa saat terjadi krisis yang menyebabkan memburukya Negara Indonesia hampir di segala bidang kehidupan, ideologi Pancasila dianggap salah satu penyebab terjadinya krisis tersebut oleh beberapa kalangan karena dianggap tidak lagi relevan untuk mengatasi berbagai krisis yang terjadi pada bangsa ini.

Tetapi dalam kasus lain, Pancasila yang menjiwai bangsa ini tetap hidup, berbagai macam konflik dan musibah luar biasa besar mampu diatasi oleh bangsa ini. Saat terjadi musibah tsunami dan gempa bumi diberbagai tempat di Indonesia, spirit yang menjiwai pancasila yaitu sila “Persatuan Indonesia” dan sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” muncul secara bersamaan dari berbagai tempat. Bantuan kemanusiaan mengalir dari seluruh penjuru tanah air tanpa ada yang memberi komando. Spirit itu juga yang muncul dan mendorong terciptanya perdamaian di berbagai daerah. Inilah spirit Pancasila yang muncul dalam mengatasi berbagai macam konflik di Indonesia. Dari kasus tersebut kita tau bahwa semangat Pancasila tidak mudah musnah dari Bangsa Indonesia. Tanpa kita sadari semangat tersebut melekat pada budaya dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan khususnya dalam semangat kebersamaan.

Tetapi pada zaman sekarang ini, para pemerintah Indonesia seringkali mengabaikan Pancasila yang seharusnya menjiwai berbagai perumusan langkah atau kebijakan. Tidak sedikit dari mereka dan para calon pemimpin kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Cenderung berpikir pragmatis demi kepentingan sesaat, lebih memikirkan kepentingan pribadi tanpa memperdulikan masa depan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka silau karena materi dan melupakan keluruhan budaya spiritual bangsa sendiri. Bukankah banyak pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa berpegang teguh pada nilai luhur budaya sendiri merupakan sumber kekuatan. Perhatikan Jepang, Korea, China, India, dan negara-negara lainnya, yang mencapai kemajuan luar biasa di berbagai bidang tanpa kehilangan jati diri bangsanya. Karena itu betapa pentingnya Pancasila harus disadari dan ditanamkan pada diri bangsa kita agar menjadi semangat yang menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Pancasila dapat dikatakan sebagai penyaring budaya luar yang masuk. Tapi mengapa pancasila saat ini sangat tidak kokoh ? Para pemerintah seringkali memanipulasi pancasila untuk kepentingan politik sempit yang hanya memberi keuntungan untuk mereka pribadi.

Jika sejak awal Pancasila terus disosialisasikan pemahaman dan penjabaran sila-silanya kemudian dimasyarakatkan secara apa adanya oleh para generasi penerus bangsa, bukan sebaliknya diseret demi kepentingan politik sesaat, maka Pancasila tidak akan pernah diejek oleh beberapa kalangan dan akan tetap menjadi faktor utama dalam menjaga keutuhan NKRI. Tidak akan ada yang mempersoalkan relavan atau tidaknya Pancasila dan tidak ada yang merasa khawatir Pancasila sebagai dasar negara sudah dilupakan. Namun yang justru terjadi adalah kebalikannya. Kondisi di negeri yang berKetuhanan ini sepertinya sudah seperti tidak mengenal Tuhan. Negeri yang berkemanusian, adil dan beradab pudar dengan maraknya praktik-praktik yang tidak berperikemanusiaan. Persatuan Indonesia berubah menjadi kotak-kotak sempit yang buta keberagaman dan kebersamaan. Rakyat tidak terwakili dan hanya menjadi objek permainan para pemerintah. Keadilan sosial hanya milik segelintir orang. Sehingga banyak kalangan yang mempertanyakan dimana kedudukan Pancasila saat ini.

Namun yang jauh lebih penting adalah upaya sungguh-sungguh agar Pancasila dapat menjadi pedoman yang dapat memecahkan berbagai permasalahan kebangsaan dan kenegaraan. Hal ini bukanlah tugas yang mudah. Persoalannya adalah :

  1. Pancasila sudah terlalu lama diseret dalam berbagai kepentingan politik yang menjadikan citra Pancasila dianggap sebagai doktrin rezim tertentu.
  2. Norma-norma yang terkandung dalam Pancasila terkadang tidak mudah diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
  3. Dalam mengkonteksualisasikan Pancasila, tidak mudah menepis pengaruh-pengaruh global, ada kepentingan-kepentingan yang juga ikut mengatur, menata, bagaimana Indonesia dikonstruksikan kembali. Terkadang kita ridak mudah mendeteksi pengaruh yang positif dan negatif dari kepentingan-kepentingan tadi. Adakalanya, mengalir pula hal-hal yang tidak sejalan dengan nilai jatidiri dan dasar kebangsaan Indonesia.

Kesimpulannya, Pancasila sebagai dasar negara dan konstitusi yang harus dipahami oleh masing-masing warga Negara Indonesia secara terus menerus. Pancasila juga harus dilihat dalam konteks asas bersama dan cita-cita bersama yang mampu menjawab berbagai permasalahan bangsa. Sehingga Pancasila tidak  dilihat sebagai ideologi tunggal yang bersifat individual dan kolektif, tetapi merupakan sebuah ideologi yang memberi ruang bagi gagasan-gagasan lain sepanjang tidak bertentangan dengan gagasan pokok dari Pancasila.

Referensi :

http://rezaelkaf.wordpress.com/2011/11/03/pancasila-dinamika-dan-perkembangan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s