Sikap Menghargai Orang Lain

Pada suatu hari, saya pergi ke kampus untuk belajar dan menjalani kegiatan kuliah seperti biasa. Jadwal hari itu hanya ada satu mata kuliah. Tetapi, setelah menunggu 15 menit dosen mata kuliah tersebut belum juga datang ke kelas. Padahal di minggu-minggu sebelumnya dosen tersebut tidak pernah terlambat sekalipun. Saat sedang menunggu dosen, banyak teman-teman yang mengobrol, bermain gadget masing-masing, mendengarkan musik, dan ada juga yang menunggu di luar kelas.

Selagi menunggu, saya dan teman-teman membeli cemilan dan minuman ke warung dekat kampus. Setelah membeli jajanan, saya dan teman-teman kembali ke kelas. Saat melewati lorong di depan kelas, banyak mahasiswa, termasuk teman-teman saya yang sedang merokok. Padahal sudah tertera aturan dilarang merokok di sepanjang koridor kelas dengan jelas dan besar. Aturan tersebut dibuat supaya orang lain yang tidak merokok merasa nyaman dan menjaga agar lingkungan kampus tetap bersih. Bahkan, saya juga pernah melihat dosen yang merokok di koridor kampus. Seharusnya, seorang dosen bisa memberikan contoh yang baik untuk mahasiswa-mahasiwanya, bukan memberikan contoh yang salah.

Karena saya merasa tidak nyaman, saya pun memberanikan diri untuk mengingatkan teman-teman saya, bahwa di sepanjang koridor dilarang merokok. Namun, mereka tetap saja tidak mau mematikan rokoknya dan bersikap masa bodoh dengan aturan, masa bodoh dengan orang lain, yang penting mereka senang. Karena saya tidak tahan dengan asap rokok, saya bergegas masuk ke dalam kelas. Sangat disayangkan peraturan seperti itu saja belum bisa dijalankan dengan baik. Kurangnya pengawasan yang ketat dan sanksi yang tegas mungkin menjadi penyebab para mahasiswa yang merokok selalu menganggap remeh aturan tersebut.

Setelah sangat lama menunggu, akhirnya banyak mahasiswa yang memutuskan untuk pulang. Namun, saya memutuskan untuk tetap menunggu dosen datang atau sampai ada kabar yang jelas dari dosen tersebut. Setelah banyak mahasiswa yang pulang, suasana kelas menjadi sepi, hanya ada sekitar 5 sampai 8 mahasiswa. Tidak lama kemudian, dosen mata kuliah tersebut datang ke kelas dan menanyakan ke mana teman-teman yang lainnya. Dosen tersebut meminta maaf dan menjelaskan alasan beliau datang terlambat, karena harus mengantarkan anaknya ke sekolah terlebih dahulu dan terjebak macet dalam perjalanan menuju kampus.

Saya bisa memaklumi alasan dosen tersebut. Kemudian, dosen tersebut mengatakan bahwa mahasiswa yang masuk pada hari itu akan diberikan nilai 10 sebagai nilai tambahan untuk Ujian Tengah Semester nanti. Saya sangat bersyukur karena saya tetap berada di kelas dan termasuk mahasiswa yang mendapatkan nilai tambahan. Dan teman-teman saya yang sudah pulang pun menyesal karena tidak mendapat nilai tambahan untuk Ujian Tengah Semester.

Dapat disimpulkan bahwa jika kita bisa menghargai orang lain, kita pun akan dihargai oleh orang lain tersebut. Bukan hanya dosen saja, siapapun jika ingin dihargai, maka bersikaplah menghargai orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s